Keuangan keluarga Islam harus dirubah terutama saat pandemi dan era 4.0

Keuangan keluarga

Keuangan keluarga Islam memang sangat perlu diberi edukasi lagi. setidaknya itulah kalimat pertama yang terpikir oleh kami ketika melihat web minar ini.

Dr. Abdul Hamid Habbe, pakar ekonomi dari UNHAS dan Dosen yang juga Ketua Dewan Pengawas Keuangan Wahdah Islamiyah ini didaulat untuk membawakan materi bertajuk “Ketahanan Ekonomi Keluarga di Era Pandemi”.

Dr. Abdul Hamid Habbe membawakan materi bertajuk “Ketahanan Ekonomi Keluarga di Era Pandemi”.
Ia mengawali paparannya dengan menjelaskan adanya bias psikologi yang terkadang tidak kita oleh sebuah keluarga.

Fly paper effect

Bias itu antara lain yang beliau sebut dengan “fly paper effect”. Maknanya, saat uang mudah diperoleh cenderung boros. Sebaliknya saat uang sulit didapat, cenderung hemat.

mental accounting yang salah
Keuangan keluarga

Menurut beliau, seharusnya kita tetap meyakini bahwa rezeki adalah amanah dari Allah yang harus kita kelola sebaik mungkin.
teradapat juga dalam Keuangan keluarga “mental accounting” yang tidak tepat. Perilaku belanja sebagian keluarga kadang tidak memperhatikan mana kebutuhan primer, mana sekunder, dan mana tersier.

Dan ternyata justru perilaku belanja itu terkadang dipengaruhi tempat. Saat di tempat belanja yang biasa saja, pengeluarannya sedikit. Cenderung hemat. Namun saat masuk ke restoran mahal, yang dipesan juga makanan yang mahal.

“Treadmill” Bagaikan berlari di tempat

Ada juga fenomena lain yang Dr. Abdul Hamid Habbe jelaskan adalah fenomena “treadmill”. Ini adalah salah satu jenis alat oleh raga dengan cara lari di tempat. Di atas tredmill, saat kita berjalan lambat, matras di bawah kaki juga lambat, dan sebaliknya. Jadi saat berjalan cepat maupin lambat, ternyata tidak bergeser dari tempat kita.

Analogi treadmill ini menggambarkan, waktu pendapatan kita kecil, pengeluaran sedikit. Sebaliknya saat pendapatan besar, konsumsi meningkat. Akibatnya, tabungan tetap nol.

Pengeluaran Penting keuangan keluarga

Tak lupa beliau mengingatkan kita sebagai orang Islam kita sebaiknya tidak hanya memikirkan pengeluaran untuk konsumsi, investasi, tabungan. Kita juga harus memikirkan pengeluaran untuk zakat, infaq, dan sedekah (ZIS).

Menariknya beliau menjelaskan bahwa pengeluaran bukan berdasarkan besaran saja tapi juga urutan. sebagai contoh bila zis dikeluarkan paling belakang maka jumlahnya relatif sedikit (karena sisa).
Dan ini bisa dikatakan “bias order”.
Sebaliknya, kalau ZIS ditempatkan di urutan palig awal, bisa sama besar dengan pengeluaran untuk konsumsi, investasi, dan tabungan.

Urutan pengeluaran yang benar

Lebih jelas Dr. Abdul Hamid Habbe memaparkan, urutannya dalah: ZIS – Investasi – Tabungan (Saving), setelah itu baru Konsumsi. ZIS ditempatkan di urutan yang pertama, investasi yang kedua, dan seterusnya. Jadi, pengeluaran untuk ZIS bukan sisa-sisa konsumsi.

Kesalahan yang sering kita lihat adalah menempatkan “konsumsi” di urutan pertama. Akibatnya bisa kita saksikan terkadang ada keluarga yang telah lama bekerja dan menabung, namun belum punya rumah. Ini karena menempatkan “konsumsi” di urutan paling depan.

Sebaiknya setiap rumah tangga seharusnya memiliki visi misi. Lima tahun kedepan harus punya apa? mau punya apa? dan seterusnya. Visi seperti ini yang akan mendorong untuk melakukan investasi.

Lihat jadwal shalat sekarang

Kita perlu memiliki investasi, karena ketika menghadapi pandemi dan disrupsi kita akan kewalahan jika hanya mengandalkan pendapatan reguler.

Menabung (saving) ditempatkan setelah investasi karena “return”-nya lebih kecil dari investasi.

Itulah paradigma yang harus diubah dari sebagian keluarga dalam keuangan keluarga menghadapi era pandemi dan disrupsi 4.0.

2 jenis pendapatan
predictable

Beliau melanjutkan pendapatan terbagi 2 yang pertama adala predictable.
Pendapatan predictable adalah pendapatan yang kita ketahui jumlahnya dan kapan diterima. Biasanya dirasakan oleh para PNS, karyawan, dan pedagang.

Upredictable

Kita sebagai seorang muslim sejati, seharusnya punya keyakinan adanya pendapatan yang tidak bisa diprediksi, unpredictable. Pendapatan jenis ini selalu datang tepat pada waktunya dan terkadang jumlahnya jauh lebih besar dari yang predictable sehingga tak jarang juga mempengaruhi keuangan keluarga.

Apa modalnya? Modal adalah taqwa. Diantara bentuk taqwa adalah “orang yang berinfak di waktu lapang maupun sempit”. Alladziina yunfiquuna fis sarra’i wadh dharraa’. Inilah yang disebut dengan ZIS.

ZIS adalah representasi taqwa. Dan, takwa akan diganjar dengan rezeki yang datang “min haitsu laa yahtasib”, dari arah yang tidak disangka-sangka. 

Artikel terbaru :

Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain

Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain, sebelum kita membahas ini lebih lanjut sebaiknya kita pahami bahwa…

Kita Semua Pasti Mati

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui…

Apakah Suara Termasuk Aurat Wanita ?

Apakah Suara Termasuk Aurat Wanita ? Aurat adalah bagian dari tubuh manusia (pria ataupun wanita) yang wajib ditutupi dari pandangan…

Surga Dan Neraka Bisa Jadi Karena Lisanmu

Surga Dan Neraka Bisa Jadi Karena Lisanmu. karena lisan kita bisa masuk surga tetapi bisa juga bisa masuk neraka. Bagaimana…

Ini Perbedaan Antara Fakir Dan Miskin Untuk Menerima Zakat

Ini Kriteria Orang Fakir Dan Miskin Untuk Menerima Zakat. Kita telah mengetahui kriteria penerima zakat selanjutnya bagaimana kita mengetahui orang…

Puasa Dan Berbuka Dengan Bangkai

Puasa Dan Berbuka Dengan Bangkai. Sebelum kita bahas apa maksudnya mari kita lihat keadaan masa kini dimana acara buka puasa…