1 Akibat berada di tempat yang buruk

Ilustrasi : Akibat berada di tempat yang buruk

“Akibat berada di tempat yang buruk,” sebelum membahas lebih jauh mengenai ini pernahkah suatu ketika terbesit di dalam benak kita mengenai lingkungan sekitar ?
Di mulai dari lingkungan tempat tinggal, lingkungan tempat bekerja, sampai dengan lingkup pergaulan sehari – hari ?

Apakah kita berada di tempat yang buruk atau berada di tempat yang baik?
Syukur Alhamdulillah jika kita merasa berada di tempat yang baik, lantas bagaimana jika kita berada di tempat yang buruk? Dan memangnya apa akibatnya?

Jika kita mempertahankan hidup di tempat yang buruk, di khawatirkan perlahan – lahan kita pun akan mengikuti kebiasaan – kebiasaan buruk mereka (waliyadzu billah).

“Kenapa bisa kita menjadi seperti mereka ? Asalkan kita bisa memfilter (dalam artian menyaring) segala sesuatu insyaallah kita akan terhindar dari pada mengikuti kebiasaan – kebiasaan buruk mereka,” begitu sebagian orang berkata.

Tapi ingatlah wahai saudara (terlebih bila kita berada di lingkungan tempat tinggal yang buruk) setiap hari nya kita akan berinteraksi dengan mereka. Itu mau tidak mau karena manusia adalah makhluk sosial.

Maka dari pada kita merasakan akibat berada di tempat yang buruk itu berhijrah lah sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

… Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.

(HR. Bukhari dan Muslim)

1 Akibat berada di tempat yang buruk

Ketika kita berada di tempat yang buruk, atau ketika lingkungan tak lagi mendukung kita untuk taat terhadap segala perintah dan larangan Allah Ta’ala malah ternyata lingkungan tersebut mendorong, memfasilitasi, mengakomodir pada larangannya maka Hijrah adalah jalan yang Insyaallah sangat tepat. Hijrah Insyaallah menjadi jalan terbaik untuk ditempuh seorang hamba yang lemah dan tidak berdaya untuk menepis segala pengaruh buruk yang bisa menimpa diri dan keluarganya.

Menurut sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang itu sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 927)

Maka dari itu suka tidak suka mereka yang hidup di sekitar kita adalah teman/saudara yang setiap hari bertatap muka, bertegur sapa, sedangkan dalam timbangan syariat bahwa agama seseorang itu dapat dinilai dari sisi agama temannya.

Sebelum berhijrah Perbaiki Niat

Akan tetapi jangan lupa amal itu bergantung pada niat orang yang melakukannya dan seseorang akan dinilai dari dari bagaiamana meletakan niat dalam hatinya. Maka sebelum berhijrah untuk menghindari berada di tempat yang buruk kita harus memperbaiki niat. Kepada siapa kita berhijrah ?
Apakah kita Ikhlas berhijrah untuk memurnikan tujuan hijrah karena Allah Ta’ala atau untuk selainnya ?

Mungkin sebagian dari kita akan melihat ini sebagai perkara spele untuk tujuan menghindar berada di tempat yang buruk padahal ini merupakan perkara besar. Karena hijrah merupakan ibadah, sedangkan ibadah adalah terlarang apabila tidak diikhlaskan hanya kepada Allah Ta’ala semata.

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

lihat bukti Sedekah Bagian Dari Bukti Keimanan Kita disini

Khawatir akan Rezeki ketika berhijrah

Bagaimana rezeki kita ketika kita meninggalkan pekerjaan dengan lingkungan yang buruk itu? Bagaimana anak istri ketika kita berhenti bekerja di tempat ini ? Apakah mereka akan baik – baik saja tidak kelaparan ?
Pertanyaan – pertanyaan seperti ini sudah sangat umum ada di benak setiap orang yang memiliki keinginan untuk berhijrah di lubuk hatinya. Bila mana pertanyaan ini dapat terjawab biasanya orang itu akan mantap berhijrah namun tak jarang juga pertanyaan – pertanyaan tersebut tidak terjawab sehingga orang itu membatalkan niat hijrahnya.

Hal ini menjadi wajar karena kita sebagai manusia sering dan sangat terbiasa berhitung menggunakan matematika biasa (matematika manusia) sedangkan Allah Ta’ala memiliki matematikanya sendiri yang sulit di pahami oleh akal manusia yang serba terbatas ini. Berhijrah dengan niat lillahi Ta’ala itu akan membuka pintu rezeki. Sebagaimana firman AllahTa’ala

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.” (QS. An-Nisaa’: 100)

Juga Allah menjanjikan 2 hal ketika kita berhijrah karenanya

مُرَاغَمًا

Imam Ar-Razi rahimahullah menjelaskan makna “مُرَاغَمًا” dalam ayat di atas yaitu kebaikan dan kenikmatan di negeri/tempat yang baru yang menjadi sebab kehinaan dan kekecewaan para musuh yang berada dinegeri asalnya. Karena ketika orang di negeri asal kita sebelumnya mendengar berita bahwa (kita mendapat) kenikmatan dan kebaikan di negeri asing (tempat baru) tersebut mereka akan merasa marah atas buruknya muamalah (prilaku) yang mereka berikan (kepada kita). Maka dengan demikian mereka merasa hina (1)

سَعَةً

Sedangkan yang ke dua menurut Qatadah rahimahullah adalah “keluasan dari kesesatan kepada petunjuk dan dari kemiskinan kepada banyaknya kekayaan” (2). Jadi kekhawatiran akan sulitnya mencari sumber ekonomi (penghasilan) bukanlah alasan seorang mukmin apabila waktu berhijrah telah tiba. Karena justru Insyaallah dengan berhijrah itu pintu rezeki terbuka dengan seluas – luasnya.

Semoga kita termasuk hamba – hamba Allah yang selalu mendapat petunjuk serta hidayah-nya. Semoga juga Allah Ta’ala selalu memudahkan kita dalam setiap aktivitas, beramal saleh, terlebih soal beribadah dan membuat kita selalu berada di lingkungan yang baik bukan berada di tempat yang buruk, lingkungan yang takut akan azab Allah Ta’ala. Aamiin

Artikel terbaru :

Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain

Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain Ingin Mengambil Kebahagian Orang Lain, sebelum kita membahas ini lebih lanjut sebaiknya kita pahami bahwa…

Kita Semua Pasti Mati

Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui…

Apakah Suara Termasuk Aurat Wanita ?

Apakah Suara Termasuk Aurat Wanita ? Aurat adalah bagian dari tubuh manusia (pria ataupun wanita) yang wajib ditutupi dari pandangan…

Surga Dan Neraka Bisa Jadi Karena Lisanmu

Surga Dan Neraka Bisa Jadi Karena Lisanmu. karena lisan kita bisa masuk surga tetapi bisa juga bisa masuk neraka. Bagaimana…

Ini Perbedaan Antara Fakir Dan Miskin Untuk Menerima Zakat

Ini Kriteria Orang Fakir Dan Miskin Untuk Menerima Zakat. Kita telah mengetahui kriteria penerima zakat selanjutnya bagaimana kita mengetahui orang…

Puasa Dan Berbuka Dengan Bangkai

Puasa Dan Berbuka Dengan Bangkai. Sebelum kita bahas apa maksudnya mari kita lihat keadaan masa kini dimana acara buka puasa…